K E P E R A W A T A N U P I

Loading

Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen Bangsa Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh kesinambungan antar upaya program dan sektor serta kesinambungan dengan upaya-upaya yang telah dilaksanakan.

Pendidikan merupakan salah satu indikator utama dalam pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan merupakan bidang yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan nasional karena merupakan salah satu penentu kemajuan suatu bangsa. Pendidikan bahkan merupakan sarana paling efektif untuk meningkatkan kualitas hidup dan derajat kesejahteraan masyarakat, serta yang dapat mengantarkan bangsa mencapai kemakmuran. Salah satu sektor yang dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan pembangunan kesehatan adalah institusi pendidikan dalam hal ini, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memiliki posisi strategis dan dapat berperan serta untuk mewujudkan cita-cita pembangunan nasional.

UPI merupakan perguruan tinggi milik pemerintah yang berada di bawah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi diharapkan dapat berkembang secara pesat dalam berbagai bidang ilmu. Sejatinya UPI sebagai leading sector pencetak tenaga pendidik berkualitas juga memiliki peran strategis perguruan tinggi dalam pembangunan bangsa melalui Tridharma Perguruan Tinggi. Dengan status UPI sebagai PTN BH memiliki keleluasan dalam pengembangankan berbagai disiplin ilmu melalui program studi baru juga menghasilkan sumber daya manusia yang memenuhi kualifikasi sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, dan kompetitif di era persaingan global. Provinsi Jawa Barat memiliki 1.039 Puskesmas yang terdiri dari 185 Puskesmas dengan fasiltias rawat inap dan 854 Puskesmas dengan fasilitas non rawat inap. Selain itu, fasilitas pelayanan kesehatan lainnya yaitu Rumah Sakit di Provinsi Jawa Barat sebanyak 198 Rumah Sakit yang terdiri dari 1 RSP yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan, 3 RS khusus yang dikelola Pemerintah Provinsi, 30 Rumah Sakit Umum yang dikelola oleh Pemerintah Daerah, 10 RS Umum yang dikelola oleh TNI/ POLRI dan 154 RS yang dikelola oleh swasta (http://www.diskes.jabarprov.go.id).

Berdasarkan sumber data informasi Kesehatan Republik Indonesia tahun 2016 kebutuhan perawat di wilayah Jawa–Bali sebanyak 30,6%. Begitupun dengan keberadaan Rumah Sakit yang mengalami peningkatan dalam hal jumlah Rumah Sakit. Data Kemenkes tahun 2016 menunjukkan jumlah Rumah Sakit di Indonesia sebanyak 2601 buah yang terdiri dari 2045 Rumah Sakit Umum dan 556 Rumah Sakit Khusus. Ini adalah peluang untuk lulusan Prodi Pendidikan Tinggi Keperawatan untuk dapat bekerja.

Gambaran kebutuhan perawat pada tahun 2016 adalah 73.838 orang tenaga keperawatan (berdasarkan rasio dengan jumlah penduduk) jumlah ini masih kurang untuk memenuhi kebutuhan perawat di Indonesia kekurangan kebutuhan perawat tersebut ditatanan pelayanan Puskesmas. Provinsi dengan rasio perawat terendah yaitu Lampung sebesar 48,90 per 100.000 penduduk, diikuti Jawa Barat 68,9 per 100.000 penduduk, dan Banten 72,1 per 100.000 penduduk. Berdasarkan data dari Badan PPSDM Kementerian Kesehatan Tahun 2016 rasio tenaga kesehatan khususnya tenaga perawat terhadap jumlah penduduk pada provinsi jawa Barat adalah 1 : 77. Dimana Jumlah penduduk Jawa barat sebanyak 48.683.861   orang (http://bppsdmk.kemkes.go.id/info_sdmk/info/renbut).

Pada tingkat nasional rasio perawat tahun 2016 adalah 113,40 per 100.000 penduduk, angka ini masih jauh dari target tahun 2019 yaitu 180 per 100.000 penduduk dan juga masih belum mencapai target sebelumnya (tahun 2014) yaitu 158 per 100.000 penduduk. Berdasarkan klasifikasi perawat dari jenjang pendidikan, dari keseluruhan total perawat 298.876 di Indonesia, sebanyak 77,56% (230.262) merupakan perawat non ners, sebanyak 10,84% (32.189) perawat pendidikan ners, sebanyak 3,72% (11.118) perawat spesialis dan sebanyak 5,17% (15.347) merupakan perawat lulusan SPK (Sekolah Pendidikan Keperawatan) yang setara SLTA (BPPSDMK, 2017).

Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPPSDMK) tahun 2017 menyatakan bahwa seiring dengan pertambahan jumlah penduduk setiap tahun terjadi peningkatan kebutuhan akan tenaga kesehatan salah satunya tenaga keperawatan karena perawat adalah profesi/tenaga kesehatan yang jumlah dan kebutuhannya paling banyak di antara tenaga kesehatan lainnya.

Berdasarkan data BPPSDMK tahun 2017 total sumber daya manusia kesehatan seluruh Indonesia mencapai 1.000.780 orang. Sebanyak 601.228 di antaranya 6 tenaga kesehatan terdiri dari 3 tenaga medis (dokter umum, dokter spesialis dan dokter gigi), paramedis (perawat dan bidan) dan tenaga farmasi. Dari 6 tenaga kesehatan tersebut jumlah tenaga perawat adalah yang terbesar mencapai 49% (296.876 orang), disusul oleh bidan 27% (163.451 orang) dan dokter spesialis 8% (48.367 orang). Berbagai kondisi sebagaimana diuraikan di atas menjadi peluang bagi UPI sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi untuk memberikan berkontribusi, salah satunya adalah dengan membuka program studi S1 keperawatan (program sarjana keperawatan dan program profesi ners) yang menghasilkan perawat sesuai dengan tuntutan profesi keperawatan. Salah satunya yaitu program studi S1 keperawatan (program sarjana keperawatan dan program profesi ners) secara khusus mempelajari ilmu keperawatan untuk menghasilkan perawat sebagai perawat pemberi asuhan keperawatan, perawat pendidik kesehatan bagi klien, keluarga dan masyarakat, perawat sebagai pemimpin dalam kegiatan komunitas profesi maupun sosial, perawat sebagai pengelola praktik ditatanan rumah sakit maupun masyarakat serta sebagai perawat peneliti pemula.

Pengembangan program studi S1 keperawatan (program sarjana keperawatan dan program profesi ners) sangat penting mengingat Kebutuhan perawat masih sangat tinggi pada tahun-tahun berikutnya sehingga lulusan Prodi Pendidikan Tinggi Keperawatan (Program Sarjana Keperawatan dan Program Profesi Ners) dipastikan dapat terserap di lapangan kerja ataupun berpeluang menciptakan lapangan pekerjaan di area praktik keperawatan.